Jumat, 15 April 2011

The POWER of SMILE


First of all, hanya sebagai gambaran, sebenarnya awalnya aku bukan termasuk orang yang murah senyum.

Bahkan, sebenarnya aku merasa heran dengan orang-orang yang sangat suka tersenyum.

Dalam benakku, mesti ada perntanyaan, "Ngapain sih orang ini dari tadi senyam-senyum?"

Mungkin itu sebabnya, kebanyakan kesan pertama orang melihatku, aku adalah orang yang dingin, susah didekati, galak, nyatek, nyokot, ngiler..eh enggak lah..hehehehe

intinya aku orang yang serem.

Well... jujur aja, aku gak pernah peduli dengan kesan orang terhadap diriku.

yang penting aku tidak melakukan sesuatu yang kriminal.

I am, what I am.

Seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal yang terjadi padaku.

Terutama ketika aku mulai memasuki dunia kerja.

Aku ingat, betapa pernah suatu saat aku mendapat cobaan berat. Aku menjadi kambing hitam dari suatu masalah yang menyangkut uang banyak... ratusan juta.

Man! liat mukanya uang ratusan juta aja gak pernah...

Saat itu sebenarnya banyak orang tau, bukan aku yang bersalah.

Tapi saat itu, memang aku dalam keadaan yang belum berpengalaman dan tidak punya bukti apa2 selain berpegang teguh pada kejujuranku, dan pertolongan Allah.

Di saat yang berat seperti itu, segalanya terasa menghimpit dan kacau. Hingga pada suatu hari, ketika aku merenungi kejadian ini sambil naik motor kesayanganku, Kotaro,tiba-tiba aku spontan tersenyum. Menertawakan keadaanku saat itu.

Dan anehnya, saudara-saudara... tiba-tiba perasaanku menjadi lebih ringan.Sepanjang perjalanan pulang, aku terus tersenyum dan beristighfar.

Mencoba meyakinkan diri bahwa tidak ada cobaan yang lebih berat daripada kemampuanku menghadapinya.

Ketika perasaanku lebih ringan, aku mulai tenang dan mulai bisa belajar ikhlas.

Saat itu aku yakinkan pada diriku, bahwa aku tidak bersalah.

Memang aku tidak punya bukti, tapi suatu saat nanti Allah pasti akan menunjukkan siapa sebenarnya yang harus bertanggungjawab tentang masalah ini.

Dan benar saja, tidak lama kemudian Allah benar-benar menunjukkan siapa yang harus bertanggung jawab atas masalah yang dilimpahkan kesalahannya padaku sebelumnya.

Saat aku masih jadi orang kantoran, aku punya bos yang baik. Beliau seperti om sendiri bagiku. Dan yang aku pelajari dari beliau adalah, beliau adalah orang yang

suka tersenyum. Tanggungjawab pekerjaannya berat. Masalah yang menghimpitnya hampir tiap hari juga berat. Tapi beliau masih selalu bisa tersenyum dan tertawa

menghadapinya. Kadang saat meeting bersama, dan kita sudah tau bakal menjadi pihak yang dipersalahkan dalam meeting bersama Big Boss, kita berdua spontan tersenyum.

Dan, beliau pasti berkata, "Ya wis lah. Mau gimana lagi? Hadapi aja." sambil tersenyum dan kadang tertawa ringan.

Dan memang, perasaan kita jadi lebih santai dan ternyata, biasanya, masalah yang awalnya kita kuatirkan bakalan super runyam dan gawat, ternyata hanya menjadi masalah ringan bagi Big Boss.

Jadi kita tidak terlalu dipersalahkan juga. Hanya mendapat nasihat2 yang membangun dari Big Boss.

Saat ini, aku berada dalam keadaan yang relatif mirip.

Tugas dan tanggungjawab datang silih berganti. Kadang malah gak mau antri. Maunya selesai bareng semua dengan hasil yang maksimal.

Saat otakku rasanya mau meledak saking penuhnya yang dipikir, dan saat badanku mulai protes karena ingin istirahat, aku hanya bisa TERSENYUM.

Menertawakan keadaanku dan situasiku.

MEmang gak jarang akhirnya keadaan berakhir dengan terkaparnya aku di tempat tidur selama beberapa hari karena Typus kumat dan lain sebagainya.

Tapi setidaknya, saat aku tersenyum menertawakan keadaanku, perasaanku jadi lebih ringan.

Ketika aku ditugaskan Allah menjadi guru, setiap hari aku menerima banyak senyuman. Bukan hanya senyuman kadang. Juga pelukan dan ciuman dari murid-muridku yang lucu-lucu.

Akhirnya aku mempelajari sesuatu, ketika seseorang tersenyum pada kita, kita biasanya akan LANGSUNG SPONTAN BALAS TERSENYUM untuk orang itu.

Dan ketika aku menerima senyuman polos dari anak-anakku itu, rasanya duniaku menjadi lebih indah. Dan jika pada saat itu kondisiku sedag tidak terlalu sehat, senyuman mereka bisa meringankan sakitku.

Akhirnya aku teringat akan hadist Rasulullah SAW yang bunyinya, “Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah.”

(HR.At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi.)

Akhirnya aku tau mengapa Rasulullah menganjurkan agar kita banyak tersenyum.

Ternyata, senyum tidak hanya bisa meringankan perasaan kita, tetapi juga meringankan perasaan orang lain.

Dan meringankan perasaan orang lain adalah termasuk perbuatan baik yang mendapat pahala.

Aku memang masih belum menjadi orang yang sangat murah senyum. Tapi aku sudah menjadi orang yang jauh lebih banyak tersenyum dibanding dahulu.

Semoga aku semakin ahli tersenyum (^_^)

So, diakhir notes ini, aku ingin menyalin beberapa buah bait syair lagu dari mendiang Nat King Cole yang judulnya, SMILE.

Smile though your heart is aching

Smile even though it’s breaking

When there are clouds in the sky, you’ll get by

If you smile through your fear and sorrow

Smile and maybe tomorrow

You’ll see the sun come shining through for you

Light up your face with gladness

Hide every trace of sadness

Although a tear may be ever so near

That’s the time you must keep on trying

Smile, what’s the use of crying?

You’ll find that life is still worthwhile

If you just smile

So, everybody let`s SMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIILLLEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!

(^0^)

Tidak ada komentar: